Sebagai salah satu gunung api paling aktif di Pulau Jawa, warga di sekitar Kabupaten Lumajang wajib memahami Panduan Mitigasi dan jalur evakuasi erupsi Gunung Semeru guna meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa saat terjadi aktivitas vulkanik yang meningkat. Gunung Semeru dikenal dengan karakteristik erupsinya yang mengeluarkan awan panas guguran (besuk) serta potensi lahar dingin yang mengikuti aliran sungai saat hujan deras melanda puncak. Kesiapsiagaan masyarakat bukan lagi sekadar himbauan, melainkan kebutuhan hidup yang harus tertanam dalam budaya sehari-hari masyarakat lereng gunung, mengingat dinamika alam Semeru yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa peringatan yang panjang.
Langkah pertama dalam Panduan Mitigasi dan keselamatan diri adalah selalu memantau status aktivitas gunung melalui aplikasi resmi dari PVMBG atau pengumuman dari pos pengamatan Gunung Sawur. Masyarakat harus mengetahui perbedaan antara status Waspada, Siaga, hingga Awas, dan apa tindakan yang harus dilakukan di setiap tingkatan tersebut. Salah satu hal krusial adalah tidak melakukan aktivitas di radius zona merah yang telah ditentukan, terutama di sepanjang lembah sungai yang menjadi jalur aliran lahar seperti Besuk Kobokan, Besuk Sat, dan Besuk Kembar. Mematuhi larangan ini adalah bentuk paling dasar dari upaya menyelamatkan nyawa dari ancaman material vulkanik yang bersuhu sangat tinggi.
Selanjutnya, dalam Panduan Mitigasi dan evakuasi, setiap keluarga harus memiliki “Tas Siaga Bencana” yang berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, masker, dan pakaian secukupnya yang siap dibawa kapan saja. Jalur evakuasi di setiap desa biasanya sudah ditandai dengan papan penunjuk arah yang jelas menuju titik kumpul atau tempat evakuasi akhir (TEA) yang aman dari jangkauan awan panas. Warga diharapkan sering mengikuti simulasi evakuasi mandiri yang diselenggarakan oleh BPBD Lumajang agar tidak panik saat sirine tanda bahaya berbunyi. Memahami rute tercepat dan lokasi pengungsian yang paling dekat dengan tempat tinggal adalah kunci utama dalam merespons bencana secara cepat dan teratur. Penggunaan masker dan kacamata pelindung sangat diwajibkan saat terjadi hujan abu guna menghindari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
