Tradisi Unan-Unan Suku Tengger Lumajang: Ritual Pembersihan Alam
Kawasan lereng Gunung Semeru menyimpan kearifan lokal yang sangat mendalam melalui Tradisi Unan-Unan. Ritual ini merupakan upacara adat besar yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Tengger setiap lima tahun sekali atau berdasarkan perhitungan penanggalan saka. Nama “Unan-Unan” berasal dari kata una yang berarti mengisi kekurangan, merujuk pada upaya manusia untuk menyempurnakan waktu dan membersihkan alam semesta dari segala unsur negatif. Bagi masyarakat pegunungan, ritual ini adalah momen sakral untuk memohon keselamatan, kesuburan tanah, serta keharmonisan hubungan antara manusia, mahluk gaib, dan lingkungan alam yang mereka tinggali.
Penyelenggaraan Tradisi Unan-Unan melibatkan persiapan yang sangat matang dan gotong royong seluruh warga desa. Salah satu elemen yang paling mencolok dalam upacara ini adalah penyembelihan hewan kurban berupa kerbau. Kepala kerbau beserta seluruh bagian tubuhnya diolah dan disusun sedemikian rupa sebagai sesaji utama yang disebut ancak. Pemilihan kerbau bukan tanpa alasan, melainkan simbol kekuatan dan ketulusan masyarakat dalam berkorban demi kesejahteraan bersama. Sesaji ini kemudian diarak menuju batas desa atau tempat yang dianggap sakral sebagai bentuk persembahan kepada para penjaga alam agar menjauhkan warga dari marabahaya dan bencana gunung berapi.
Dalam Tradisi Unan-Unan, peran pemangku adat atau dukun pandita sangatlah sentral. Beliau bertugas memimpin jalannya doa dan merapalkan mantra-mantra kuno dalam bahasa Kawi yang berisi puja-puji kepada Sang Hyang Widi Wasa serta para leluhur. Suasana mistis dan khidmat sangat terasa saat asap kemenyan membubung tinggi di tengah kerumunan warga yang duduk bersila dengan penuh kepasrahan. Ritual ini dipercaya mampu menetralisir energi jahat atau sarpa yang dapat merusak keseimbangan ekosistem. Setelah prosesi doa selesai, biasanya dilanjutkan dengan makan bersama sebagai simbol persatuan dan rasa syukur atas segala berkah yang telah diterima selama lima tahun terakhir.
Daya tarik Tradisi Unan-Unan kini telah menarik perhatian dunia internasional sebagai bentuk pelestarian budaya yang autentik. Namun bagi suku Tengger, ritual ini tetaplah menjadi kewajiban moral yang tidak boleh ditinggalkan demi kepentingan pariwisata semata. Mereka sangat disiplin dalam menjaga keaslian tata cara ritual agar tidak tergerus oleh modernisasi. Pelestarian tradisi ini juga berdampak positif pada lingkungan, karena di sela-sela ritual, para sesepuh selalu menyelipkan pesan untuk menjaga hutan dan sumber mata air. Hal ini membuktikan bahwa spiritualitas lokal adalah fondasi paling kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di wilayah pegunungan yang rentan terhadap kerusakan.
