Meskipun andaliman sering identik dengan masakan dari Sumatera Utara, kini tren penggunaan Getirnya Bumbu Andaliman mulai merambah ke dapur-dapur di Lumajang, Jawa Timur, menciptakan sensasi kuliner fusi yang sangat menarik. Andaliman, yang sering disebut sebagai merica batak, memberikan rasa getir dan sensasi kelu atau “getar” di lidah yang disebabkan oleh kandungan hydroxy-alpha-sanshool. Di Lumajang, rempah eksotis ini mulai dipadukan dengan bahan-bahan lokal seperti ikan air tawar atau sambal khas lereng Gunung Semeru, menghasilkan profil rasa yang berani, pedas, dan meninggalkan kesan tak terlupakan bagi siapa pun yang mencobanya.
Keunikan dari Getirnya Bumbu Andaliman terletak pada aromanya yang menyerupai jeruk namun memiliki efek pedas yang menggigit secara perlahan. Para koki di Lumajang memanfaatkan sifat andaliman ini untuk menghilangkan bau amis pada olahan ikan mujaer atau nila yang banyak dibudidayakan di daerah tersebut. Proses penghalusan andaliman yang dilakukan bersama cabai rawit dan garam menciptakan bumbu dasar yang mampu mengangkat rasa masakan ke tingkat yang lebih tinggi. Sensasi unik yang muncul saat menyantap hidangan ini sering kali menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan pecinta makanan pedas yang mencari tantangan rasa baru.
Mengolah Getirnya Bumbu Andaliman memerlukan keahlian khusus agar rasa getirnya tidak menutupi rasa asli dari bahan utama masakan. Jika digunakan terlalu banyak, masakan bisa terasa terlalu tajam, namun jika porsinya pas, andaliman akan memberikan kesegaran yang membuat lidah terus ingin mencicipi. Inovasi penggunaan rempah lintas budaya ini membuktikan bahwa masyarakat Lumajang sangat terbuka terhadap eksplorasi rasa global maupun nasional. Keberadaan menu-menu berbasis andaliman di warung-warung lokal kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang bosan dengan masakan yang itu-itu saja dan menginginkan sesuatu yang lebih “nendang”.
Selain memberikan kepuasan rasa, Getirnya Bumbu Andaliman dipercaya memiliki khasiat medis seperti membantu melancarkan peredaran darah dan sebagai anti-inflamasi alami. Rempah ini sangat cocok dikonsumsi di wilayah Lumajang yang memiliki udara pegunungan yang dingin, karena memberikan efek hangat pada tubuh sesaat setelah dimakan. Semakin populernya andaliman di Jawa Timur juga mendorong para petani lokal untuk mencoba membudidayakan tanaman ini di ketinggian yang serupa dengan habitat aslinya, sehingga rantai pasok bumbu eksotis ini bisa tetap terjaga dan harganya menjadi lebih terjangkau bagi pelaku UMKM kuliner.
