Bencana banjir Lahar Dingin Semeru Lumajang kembali menerjang pemukiman warga dan memutus akses jembatan vital di wilayah kaki Gunung Semeru. Fenomena ini sebenarnya merupakan siklus alami pasca-erupsi, di mana material vulkanik yang menumpuk di puncak gunung terbawa oleh curah hujan yang tinggi ke aliran sungai. Namun, kekalutan yang terus berulang setiap tahun memicu perdebatan publik mengenai penyebab utamanya: apakah ini murni faktor alam yang tak terelakkan, ataukah ada andil kelalaian manusia dalam pengelolaan mitigasi bencana?
Jika menilik dari sisi teknis, Lahar Dingin Semeru Lumajang memang dipicu oleh intensitas hujan di atas normal. Namun, dampak yang begitu masif sering kali diperparah oleh rusaknya daerah aliran sungai (DAS) akibat aktivitas pertambangan pasir yang tidak terkendali. Pengerukan pasir yang berlebihan di bantaran sungai menyebabkan perubahan morfologi sungai, sehingga air beserta material lahar lebih mudah meluap ke pemukiman warga. Ketidakpatuhan sebagian pelaku usaha tambang terhadap batas-batas zonasi bahaya menciptakan kerentanan yang lebih besar bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai Curah Kobokan dan sekitarnya.
Selain masalah pertambangan, faktor kelalaian manusia dalam Lahar Dingin Semeru Lumajang juga terlihat dari masih banyaknya warga yang enggan direlokasi dari zona merah. Meskipun pemerintah telah menyediakan hunian tetap yang lebih aman, keterikatan ekonomi pada sektor pertanian dan pasir membuat banyak warga tetap beraktivitas di area berbahaya. Sistem peringatan dini (early warning system) yang terkadang mengalami kendala teknis atau tidak terdengar oleh seluruh warga di pelosok desa juga menjadi catatan evaluasi yang serius bagi otoritas penanggulangan bencana daerah.
Di sisi lain, narasi bahwa Lahar Dingin Semeru Lumajang adalah murni faktor alam tetap memiliki basis argumen yang kuat. Sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, Semeru terus memproduksi jutaan meter kubik material vulkanik. Kapasitas sungai-sungai yang ada memang tidak akan pernah cukup untuk menampung volume material tersebut jika terjadi hujan ekstrem. Pembangunan tanggul dan jembatan gantung yang kokoh pun sering kali hancur dalam hitungan menit saat diterjang derasnya aliran lahar yang membawa bongkahan batu raksasa dan batang pohon.
Sinergi antara ketegasan regulasi dan kesadaran masyarakat adalah kunci utama menghadapi Lahar Dingin Semeru Lumajang. Pemerintah harus lebih tegas dalam menata aktivitas pertambangan serta mempercepat pembangunan infrastruktur sabo dam yang berfungsi untuk memecah energi lahar. Masyarakat juga diharapkan tidak mengabaikan instruksi evakuasi demi keselamatan nyawa. Pada akhirnya, kita tidak bisa melawan kekuatan alam, namun kita bisa meminimalisir risiko jatuhnya korban dengan tidak menjadi “lalai” dalam mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana yang sudah pasti akan datang kembali.
