Kondisi Miris Pengungsi Semeru Jalani Puasa di Huntap
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak erupsi dahsyat melanda lereng Gunung Semeru, namun kehidupan para penyintas yang kini menempati hunian tetap (Huntap) masih menyisakan banyak persoalan. Memasuki bulan Ramadan 2026, terlihat Kondisi Miris di mana para pengungsi harus berjuang menjalankan ibadah puasa dengan fasilitas yang masih sangat terbatas. Meskipun mereka sudah memiliki atap untuk berteduh, namun minimnya akses lapangan kerja di sekitar kawasan relokasi membuat banyak kepala keluarga kesulitan untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak mereka saat waktu berbuka tiba.
Keadaan ekonomi yang belum pulih sepenuhnya menciptakan Kondisi Miris bagi para lansia dan anak-anak yatim di pengungsian yang sangat bergantung pada bantuan sosial. Bantuan yang dulunya mengalir deras kini mulai menyusut seiring berjalannya waktu, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Di dalam rumah-rumah Huntap yang sederhana, suasana Ramadan terasa sepi tanpa adanya kemeriahan seperti di desa asal mereka yang dulu subur. Kehilangan harta benda dan lahan pertanian yang tertimbun material vulkanik membuat mereka harus memulai segala sesuatunya dari bawah dengan penuh ketegaran di tengah himpitan ekonomi yang kian menjepit.
Selain masalah pangan, Kondisi Miris ini juga terlihat dari keterbatasan akses air bersih di beberapa blok hunian yang sering mengalami kemacetan pasokan. Warga terpaksa harus menghemat air secara ekstrem untuk keperluan memasak, mencuci, dan berwudhu, yang tentu saja menambah beban fisik saat sedang berpuasa. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan tidak melupakan nasib para penyintas Semeru ini hanya karena bencana sudah lama berlalu. Diperlukan program pemberdayaan ekonomi yang nyata, seperti pelatihan kerajinan atau bantuan modal usaha mikro, agar warga Huntap bisa mandiri dan tidak terus-menerus hidup dalam bayang-bayang bantuan konsumtif.
Dampak psikologis dari Kondisi Miris ini juga membayangi kesehatan mental para penyintas yang masih mengalami trauma terhadap aktivitas vulkanik Semeru yang terkadang masih meningkat. Rasa takut kehilangan rumah kembali sering kali menghantui pikiran mereka, terutama saat terjadi gempa kecil atau hujan abu di sekitar kawasan Huntap. Kehadiran relawan pendamping dan tokoh agama sangat diperlukan untuk memberikan motivasi spiritual agar mereka tetap optimis menatap masa depan. Ramadan seharusnya menjadi momen penguatan iman, namun tanpa adanya jaminan kesejahteraan hidup, proses pemulihan sosial bagi warga terdampak akan berjalan sangat lambat dan melelahkan.
