Semeru Meletus: Cerita Warga Pelosok yang Enggan Mengungsi

Fenomena Semeru Meletus selalu menjadi berita besar yang memicu kekhawatiran nasional, namun di balik layar televisi, terdapat realita sosial yang cukup kompleks di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Bagi masyarakat urban, perintah evakuasi adalah hal mutlak yang harus dipatuhi demi keselamatan nyawa. Namun, bagi warga pelosok di Dusun Curah Kobokan atau Supit Urang, meninggalkan rumah saat terjadi erupsi bukanlah perkara mudah. Ada ikatan batin yang sangat kuat antara penduduk lokal dengan “paku bumi” Jawa ini, sebuah hubungan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, hingga kepercayaan spiritual yang mendalam.

Alasan utama mengapa saat Semeru Meletus masih banyak warga yang enggan mengungsi adalah faktor hewan ternak. Bagi petani di lereng Semeru, sapi dan kambing bukan sekadar harta, melainkan tabungan hidup yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Mereka merasa bahwa jika mereka pergi ke pengungsian dan meninggalkan ternak tanpa makanan atau perlindungan, mereka akan kehilangan segalanya setelah bencana usai. Seringkali, para kepala keluarga memilih tetap tinggal untuk menjaga kandang, sementara anak dan istri dikirim ke barak pengungsian yang lebih aman.

Selain urusan materi, kejadian Semeru Meletus juga dipandang melalui kacamata adat. Sebagian warga senior di pelosok Lumajang meyakini bahwa Semeru adalah entitas yang memberikan kehidupan melalui kesuburan tanahnya. Mereka merasa memiliki insting alamiah untuk membaca tanda-tanda dari “Mbah Semeru”. Jika mereka merasa belum ada titah atau firasat spiritual untuk pergi, mereka akan tetap bertahan meski abu vulkanik sudah menutupi atap rumah. Bagi mereka, mati atau hidup sudah diatur oleh sang pencipta dan alam, sebuah kepasrahan yang seringkali membuat petugas penyelamat kewalahan dalam melakukan evakuasi paksa.

Pemerintah dan relawan terus berupaya memberikan edukasi bahwa mitigasi bencana dalam peristiwa Semeru Meletus harus mengedepankan logika keselamatan. Trauma akibat awan panas guguran (APG) yang terjadi beberapa tahun lalu mulai mengubah pola pikir sebagian warga, namun tantangan logistik di pengungsian seringkali menjadi hambatan. Kurangnya fasilitas untuk menampung hewan ternak di lokasi pengungsian adalah salah satu lubang besar dalam sistem manajemen bencana kita. Jika urusan perut ternak terjamin, kemungkinan besar warga akan lebih sukai untuk mengikuti prosedur evakuasi dengan tenang.